Tuesday, February 28, 2017

MENGURANGI TIMBANGAN, RESIKONYA BISA TERJENGKANG!

MENGURANGI TIMBANGAN, RESIKONYA BISA TERJENGKANG!

Waktu saya SMA dulu saya mengenal seorang pedagang plastik kiloan untuk bungkus makanan atau apapun itu. Segala jenis plastik dia jual, dari yang bening ukuran kecil, sampai plastik kresek ukuran besar. Usahanya begitu jaya, setiap malam berkarung-karung plastik datang kerumahnya, dikeluarkan, dipilah-pilah, baru besok pagi dibawa ke pasar dan diedarkan kepada para pedagang disana. Buat bungkus cabe, sayur, ikan, ayam, rengginang, semua masuk..

Anehnya, para tetangga bilang kalau malam hari sedang proses pemilahan, plastik itu dikeluarkan bungkusnya dari pabrik. Pedagang itu mengambil beberapa lembar plastiknya, terus plastik pembungkusnya direkatkan lagi dengan api lilin. Plastik-plastik yang diambil itu dikumpulkan, menjadi segumpul, dirapikan dan jadi penambah dagangannya..

Curang? Iyalah!
100 lembar plastik bening, diambil 5 terus dikumpulkan, yang 95 dilem lagi dijual, yang 5 dikumpulkan sampai terkumpul banyak, dilem, jadi dagangan lagi. Pembeli plastiknya tidak mungkin menghitung lembar demi lembar plastik yang dia beli, buang waktu saja..

Bagaimana endingnya?
Saya jadi saksi pedagang itu dulunya makmur, punya motor 3, rumahnya langsung diganti keramik semua, bisnisnya rame. Namun janji ALLAH buat orang-orang yang curang dalam berdagang ternyata terbukti.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthoffifin: 1-3).

CELAKA! Itu ancamannya..
Pedagang plastik itu terjerat riba hingga ratusan juta. Rumahnya disatroni tukang tagih siang malam. Dagangannya ludes tak bersisa. Mereka memilih meninggalkan rumahnya dan pergi ke kota lain, sampai hari ini mereka tidak kembali, rumah itu hanya ditempati saudaranya bertahun-tahun dengan kayu yang makin keropos dan cat yang hancur memudar.

Berapa banyak di jaman sekarang orang yang berbisnis bermain curang, timbangan diakali biar yang sekilo jadi berkurang takarannya.
Yang jualan online pun begitu, barang buruk dibilang bagus, kirim di luar spek, barang returan dikemas ulang lalu jual lagi ke pembeli lain. Gambling, semoga pembelinya gak protes..

Jualan dengan cara begitu, dapat uangnya tapi gak dapat berkahnya..
uang kepegang, tapi ALLAH bakal ambil lagi uang itu dengan cara-cara lain, lewat sakit.. celaka di jalan.. kehilangan.. atau gantian dia yang ditipu pelanggan.. nyesek kan!

Kemarin saya ke Gunung Kidul, ada cemilan khas sana yaitu belalang goreng. Rasanya memang enak kok, banyak yang suka walaupun ada juga yang ngeri melihat tampilannya...

Saya pernah bertanya penjualnya yang tersebar di jalan-jalan:
"Mbak ini kok toplesnya diganjel dengan dus tengahnya? Dari bawah kelihatan penuh, tapi ternyata bagian tengah berkurang jauh karena ditahan oleh dus yang dipotong bundar berbentuk cembung.."

Jawabnya:
"Iya mas, saya cuma dikirimi oleh supplyernya.. saya gak mengemas sendiri"

"Kalau begini namanya bisa diangap curang lho mbak sama pembeli, harga 25 ribu setoples, kelihatan banyak padahal enggak. Coba kalo beli di toko kacang bawang, kacang kapri, kacang tepung, dari bawah kelihatan penuh, pas dibuka ya tetap penuh.. "

Penjual itu cuman mringis gak bisa jawab...

Kalau memang alasannya untuk meniriskan minyak harusnya bisa dilakukan di luar toples usai digoreng, saya pernah membeli dengan harga yang sama 25 ribu, tapi toples isi penuh tanpa ada pengganjal dus cembung dibawahnya yang mengurangi volumenya.

Mmm... bisa jadi beda ya suppliyernya.

ALLAH meminta kita yang mau dapat rejeki berkah, adalah jadi pedagang yang JUJUR yang menyempurnakan semua takarannya..

"Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya [QS al-Isrâ`:35].

Mulai sekarang berjanjilah pada diri sendiri, agar selalu hati-hati dalam mencari rejeki. Kalau hanya sekedar materi banyak sekali di bumi ini, tapi yang diridhoi oleh Ilahi harus dihindari yang ALLAH benci...

Yuk marii..
@Saptuari

No comments:

Post a Comment