Wednesday, January 18, 2017

BELAJAR JUJUR PADA ORANG JEPANG

Saya mengetik tulisan ini berselimut dingin hingga suhu 1 derajat di Tokyo, hari ini usai saya mengisi seminar "Kembali Ke Titik Nol" untuk kawan-kawan KMII (Keluarga Masyarakat Islam Indonesia) disana.

Usai mendarat di Bandara Haneda lusa pagi, saya dan Teuku Wisnu diajak cititour oleh pak Wilopo (Kepala Imigrasi Indonesia Jepang) dan pak Harun (Kepala Kantor Cabang Pertamina di Tokyo), sepanjang jalan kami ngobrol tentang Jepang, termasuk tentang prinsip hidup orang-orangnya.

Pak Harun bercerita,
"Mas kalo kita makan disini jangan pernah memberikan uang tip kepada pelayannya, itu malah membuat mereka tersinggung. Mereka tidak mau menerima, karena mereka merasa hak mereka adalah gaji dari yang mereka terima, beda kalau di negara lain, malah mereka nunggu tip dari tamu yang datang.."

Teuku Wisnu menambahi,
"Pantes pak, waktu beberapa tahun lalu saya ke Kyoto naik becak disana, ketika saya memberikan kelebihan bayarnya mereka menolak, sampai saya paksa-paksa tetep gak mau nerima.. no no no.. tengkyu teengkyu!"

"Di kantor saya mas akuntingnya kita ambil orang Jepang, dia bekerja 40 jam seminggu. Naah dalam perjalanannya pekerjaan itu bisa dikerjakan lebih cepat oleh dia, naaah dia itu menghadap saya minta gajinya dipotong, karena waktu kerjanya hanya 20 jam saja.. sepanjang hidup saya baru saya ketemu orang kayak gini.. " lanjut pak Harun

Wow! Hehe.. kalau kita di Indonesia yang bakalan ketemu bukan karyawan yang minta gaji turun yak, adanya yang minta gaji naik terus karena harus buat bayar cicilan motor, cicilan hape dan cicilan.. cicilan.. cicilan.. cicilan lainnyaaa..

"Pernah juga saya mas naik taksi, sopirnya salah masukkan alamat tujuan di GPS, nah terpaksa kami harus jalan muter, argonya kan terus jalan mas, pas saya mau bayar total yang di argo dia kurangi sendiri untuk menebus kesalahannya. Gak mau di menerima utuh.. " hehe, kalau di Indonesia pernah ngalamin kayak gitu?

"Tapi kehidupan disini keras mas, harga diri mereka sangat tinggi.. banyak yang gak punya agama, jiwa mereka kosong. Tiap tahun angka bunuh diri di Jepang sampai 30.000 orang lho mas, bahkan ada hutan di Jepang khusus tempat orang-orang bunuh diri, ada manager yang salesnya tidak tercapai, dia malu, depresi, dan dengan mudahnya bunuh diri.. "

Ngeri yaa..

"Di Jepang jarang mereka punya Asisten Rumah Tangga mas, semua dikerjakan sendiri, kalau gak bener-bener kaya gak ada yang punya ART di rumahnya.. soal kebersihan mereka nomer satu, lihat nih sepanjang jalan gak ada sampah, bersih semuanya.. kalau gak ada tempat sampah merek rela mengantonginya dan nanti membuang di tempatnya"

Mmm.. amazing ya, pantes di Jepang tidak ada orang Indonesia yang bekerja sebagai ART, beda dengan di Hongkong dan Taiwan.. Buruh migran yang bekerja sebagai ART bejibuuun dimana-mana.. gaya hidup penduduknya sudah beda.

Seminar "Kembali Ke Titik Nol" di Balai Sekolah Republik Indonesia Tokyo kemarin membludak diluar perkiraan panitia, yang register hingga 650 orang. Rencana duduk pakai kursi karena ruangan tidak muat akhirnya dialihkan dengan duduk lesehan. Ketika datang saya langsung terhibur dengan wajah kawan-kawan dari Indonesia yang wajahnya ramah penuh senyum, memang beda dengan wajah orang Jepang, yang sekilas kelihatan sepanneng dan tegang hehe..

Saya bertemu orang-orang hebat disini, mereka yang bekerja atau kuliah, ada yang S1,S2, bahkan S3 di berbagai kampus di penjuru Jepang, bukan hanya di Tokyo.
Bahkan ketua panitia pembangunan masjid Indonesia Tokyo adalah seorang profesor muda dari Purworejo, Muhammad Aziz yang baru berusia 36 tahun. Lulus SMA langsung kuliah S1 sampai akhirnya jadi profesor di Tokyo Institute of Technologi.

Saya dan Teuku Wisnu bercerita tentang perjalanan hijrah kami masing-masing, Wisnu dari seorang artis yang dulu sangat terobsesi dengan uang dan uang, namun tidak pernah menemukan kedamaian hati, sampai dia menemukan jawaban.. ikut dan taat aturan ALLAH lah yang membuat hati tenang. Saya tentu bercerita tentang hijrah saya dari pengusaha yang bergelut dengan utang dan riba, sampai bisa melepaskannya..

Semua peserta sangat antusias! Mereka yang tinggal di luar negeri sangat haus dengan ilmu seperti ini..

Akhirnya saya bercerita tentang #SedekahRombongan yang saya kelola, dan mengajak semua peserta untuk bersedekah demi selesainya pembangunan masjid Indonesia Tokyo masih kurang 4,5 milyar rupiah dengan batas waktu April nanti. Panitia dari tahun ketahun sudah menghimpun dana sejak tahun 1999 sampai hari ini, hampir 20 tahun namun dana belum terkumpul, sementara tidak ada dana bantuan dari pemerintah Indonesia.. padahal harga bangunan di Tokyo sangaaat mahal sekali. Negara-negara lain sudah punya Masjid sendiri di Tokyo, seperti Turki, Banglades, Pakistan, Saudi... Indonesia yang belum.

Peserta rebutan untuk memberikan sedekah, juga lelang buku-buku saya, dan baju muslim produk Teuku Wisnu.. ludesss semuanya dan 100% untuk pembangunan masjid Indonesia Tokyo.. jika ditotal hampir 3 juta yen. Ditambah komunitas perawat yang menyumbang 1,3 juta yen.. kalau dikonversi rupiah hampir 500 juta.. Alhamdulillaaah!

Kemarin saya ke Shibuya, melihat ribuan orang yang bergerak melintasi jalan dengan sangat ramai. Dikepung gedung-gedung tinggi dan iklan hedonis yang angkuh memucatkan wajah mereka..

Jauh sekali auranya dengan wajah-wajah orang Indonesia yang tetap tertawa walaupun usai "kehilangan" uang berjuta-juta untuk sedekahnya..

Belajar jujur pada orang Jepang boleh.. tapi belajarlah tersenyum dan baik hati pada orang-orang Indonesia!

Tokyo dalam titik beku..
salam hangat selalu,
@Saptuari

No comments:

Post a Comment